ARTIKEL DAN BUDAYA DI DAERAH SULAWESI TENGAN



TRADISI DAN BUDAYA DI DAERAH SULAWESI TENGAH

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri banyak pulau-pulau yang sangatlah indah dari Sabang hingga Merouke. Salah satunya adalah Pulau Sulawesi. Pulau ini terletak di antara Pulau Kalimantan dan Kepulauan Maluku dengan luas 174.600 km2. Sulawesi sendiri terdiri oleh beberapa provinsi, yakni Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. Khusus untuk Sulawesi  Tengah merupakan provinsi terbesar dengan luas daratan 68,003 kilometer persegi dan luas laut 189,480 kilometer persegi, mencakup  Semenanjung bagian timur, Semenanjung bagian utara dan Kepulauan Togean di Teluk Tolo. Sebagian daratan Sulawesi Tengah  ini bergunung-gunung, salah satunya adalah gunung Katopasa yang merupakan gunung tertinggi 2.835 meter dari permukaan laut.
Provinsi Sulawesi Tengah yang terdiri dari 4 kabupaten ini mempunyai berbagai  macam–macam suku. Ada 12 suku yang terdapat di Sulawesi Tengah, yaitu Kaili, Pamona, Mori, Tomini, Bungku, Balantak, Banggai, Toli-Toli, Buol, Kulawi, Lore dan Saluan. Mayoritas penduduknya beragama Islam, sebagian lagi menganut agama Kristen, Hindu dan Budha. Perbedaan agama dan suku diantara mereka tidak menjadikan jurang pemisah bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Justru perbedaan tersebutlah yang menjadikan bertambahnya keakraban dan rasa persaudaraan.
Daerah Sulawesi Tengah merupakan daerah yang 65% nya masih berupa hutan lebat. Sehingga banyak sekali flora dan fauna didaerah ini. Jenis flora dan faunanya pun langka dan esotik. Contohnya rusa, babi, babi rusa, anoa, segala macam ular dan banyak sekali jenis-jenis burung. Potensi seperti inilah yang mungkin bisa dikembangkan disetiap daerah. Agar hewan-hewan didaerah tersebut tidak punah dan dapat terhindar dari pemburuan liar oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Keragaman flora dan fauna di Sulawesi merupakan daya tarik sendiri untuk para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi Pulau Sulawesi. Bangunan tempat tinggal di daerah Sulawesi Tengah masih berupa rumah pangung yang  terbuat dari kulit kayu, papan ataupun bambu dengan tiang dengan kayu bulat atau batu. Stuktur bangunannya pun masih seperti zaman dahulu, sampai sekarang pun belum merubahnya. Bangunan-bangunan selain tempat tinggal atau yang sering disebut banua selain itu di daerah Sulawesi Tengah mempunyai beberapa rumah adat, yaitu:                                                                                                      
a)      Baruga/Lobo/Bantaya = rumah adat yang terletak ditengah-tengah desa yang dibangun khusus untuk upacara atau musyawarah masyarakat tersebut.
b)      Gampiri/Ala’ = lumbung yang digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian yang biasanya dibangun disamping rumah.
c)      Lolu = tempat yang dibangun khusus untuk berteduh.
d)     Kandepe = tempat yang dibuat untuk tempat tinggal tetapi hanya sementara.
e)      Lobo = tempat yang dibuat khusus di ladang atau sawah.
Bahasa di daerah Sulawesi Tengah banyak yang menggunakan bahasa daerah Kaili, Tomini, Pamona, Bada, Napu, Pipikoro, Mori, Toli-toli buol, Saluan, Bulantak dan bahasa daerah Banggai. Masyarakat di daerah ini pun banyak yang belum bisa menggunakan bahasa nasional, khususnya masyakakat pedalaman yang biasanya tinggal didaerah pegunungan. Hal ini banyak terjadi pada orang-orang tua atau orang zaman dahulu yang kebanyakan belum bisa menggunakan bahasa nasional karena mereka terbiasa menggunakan bahasa ibu atau bahasa khusus daerah disana. Di daerah ini juga belum mengenal tulisan. Akan tetapi sudah ditemukan peninggalan tertulis dari kulit kayu yang berisiskan silsilah raja zaman dahulu yang berupa huruf dan bahasa tajio. Tajio sendiri merupakan daerah terpencil dan terasing di Sulawesi Tengah.
Masyarakat Sulawesi Tengah juga mempunyai sistem mata pencaharian yang beragam seperti berburu, merawu, perikanan, pertaniaan dan kerajinan. Biasanya didaerah Sulawesi Tengah dalam sistem mata pencahariaannya terdapat juga upacara-upacara adat dan setiap mata pencahariaan mempunyai cara tersendiri. Kerajina di daerah Sulawesi Tengah lumayan cukup menarik. hasil kerjinan masyarakat setempat tidak untuk diperjual belikan akan tetapi untuk keperluan mereka sendiri, jika hasil kerajinannya lebih dan sudah mencukupi kebutuhan mereka maka hasil kerajinan mereka akan ditukarkan dengan kebutuhan pokok.
Masyarakat Sulawesi Tengah juga mempunyai makanan dan minumam khusus. Tetapi mereka tetap mempunyai makanan pokok yaitu beras. Makanan khusus mereka adalah “karada” yang terbuat dari jagung muda, berbagai macam sayur, ubi kayu/ubi jalar, dan beras yang semua bahan dimasak menjadi satu yang nantinya berbentuk cair. Cara makannya pun ketika “karada” masih panas ditambah lauk pauk. Sedangkan minuman khususnya adalah ”saguer” atau tuak yang berasal dari pohon enau atau pohon nira. Bagi masyarakat tertentu di daerah Sulawesi Tengah tuak merupakan minuman sehari-hari.
Selain jenis makanan dan minumannya, didaerah Sulawesi Tengah juga mempunyai pakaian dan perhiasan yang cukup unik dan menarik. Pakaian sehari-hari mereka saja terbuat dari kulit kayu nuru atau yang lebih dikenal dengan pohon beringin. Akan tetapi ketika mereka upacara pakaian yang digunakan pun berbeda yaitu terbuat dari kulit kayu Ivo, kainnya pun akan lebih halus dan bermutu, kainnya pun lebih baik daripada yang terbuat dari kulit kayu Nunu. Pakaian upacara laki-laki pola dan bentuknya tidak jauh berbeda dengan pakaian sehari-hari mereka. Hanya bahan dan bagian tertentu saja yang diberi hiasan dan manik-manik yaitu berupa benang emas atau benang perak. Contoh pakaian upacara laki-laki yaitu: Destar, baju bagian dada, lengan , leher, pinggang diberi rias ragam, celana yang diberi hiasan dan Sarung berwarna kuning, hijau, merah atau biru dengan motif subu atau bomba  atau kombinasi keduanya yang diberi kembang-kembang dari emas dan perak. Selain menggunakan pakaian seperti itu para lelaki juga menggunakan perhiasan yang berupa tanduk sebagai lambang kebesaran (khusunya untuk keturunan raja), Pasatimpo yaitu keris bersarung emas, Jima valu yaitu pengikat lengan diatas siku dan Lala mboso (gelang) yang besarnya sehasta. Sedangkan pakaian upacara untuk perempuan pola, bentuk dan jenisnya hampir sama dengan pakaian sehari-hari mereka. Hanya saja yang membedakan adalah ragam hias dan hiasan-hiasan tertentu dari manik-manik. Adapun pakaian upacara perempuan ialah :
a)      Baju, pada bagian kerak baik berdiri maupun bundar bagian depannya dan bagian tubuh lainnya, diberi hiasan manik-manik.
b)      Baju Poko, kerag berdiri dari lengan ke siku, bagian depan memakai kancing (dari tanduk) dan bentuknya pas untuk tubuh.
c)      Baju gampa, panjang sampai di pinggul, lehernya mirip teluk belanga tidak memakai kerag, bentuknya agak besar dan los dibadan.
d)     Sampulu, kerudung  untuk penutup kepala dan dililitkan dileher denan warna merah, kuning oranye dan merah jambu.
e)      Sarung, sama dengan kain upacara laki-laki.
f)       Ikat kepala yang biasa disebut dadasa.
Pakaian tersebut dilengkapi dengan perhiasan dari manik-manik emas seperti : anting-anting panjang terurai sampai bahu, Geno (kalung)  selingkar leher dengan lebar tiga sentimeter, Sampodada (kalung tersususun) sehingga menutupi bagian dada, gelang (pontodate) dan ikat pinggang (pedding) yang terbuat dari besi kuningan. Baik laki-laki maupun perempuan didalam kehidupan sehari-hari jarang sekali menggunakan perhiasan hanya untuk waktu tertentu mereka menggunakan perhiasan.
Di daerah Toraja yang daerahnya dingin di Sulawesi Tengah, mempunyai banyak sekali jenis kain tenunan–ikat baik tenun yang kasar maupun yang halus. Kain tenunan yang paling terkenal dan sudah impor adalah kain kulit kayu yang biasanya dipakai orang-orang dari Bada’ Toraja. Pakaian-pakaian ini dilukis dengan kain kulit kayu atau penggantinya, katun putih atau hitam. Ada cara tersendiri memakai pakaian jenis ini yaitu masukkan badan kedalam sarung yang dilipat keluar sehingga tepi lipatan sebelah atas mencapai bahu. Sarung jenis ini biasanya ukurannya sangat lebar dan ketika memakai sarung ini perlu bantuan seseorang. Ikatlah dengan tali kain diatas tulang pinggul dan ratakan sarung tersebut disekeliling pinggul. Lipatkan tepi lipatan diatas agar menutupi tali ikat pinggang sehinnga bagian sarung yang tergantung tersebut membentuk lapisan yang kedua yang melekat pada sarung itu diatas lapisan pertama yang terbentuk karena lipatan pertama tadi. Kemudian ratakan semuanya. Pakaian baju melalui kepala satu-satunya lubang untuk masuk adalah lubang leher, karena itu lubang tersebut buatlah secukupnya dan letakkan diluar sarung. Ujung dari tali penggikat harus terlihat sedikit. Agar lebih bagus lagi bagian belakang baju ini diberi “zipper”.
Ketika masyarakat Sulawesi Tengah menggunakan pakaian adatnya biasanya bagian  rambut pun harus diberi hiasan. Apabila  panjang rambut tidak mencapai pinggang, maka perlu ditambah rambut palsu. Dalam menata rambut pun ada cara-cara tertentu seperti menyisir rambut dengan halus dan tariklah semuanya keatas telingga sebelah kanan dan diputar sedikit. Kemudian bawalah gulungan rambut melalui atas kepala kebelakang kuping sebelah kiri. Masukan ujung rambut kebawah permulaan dari gulungan tadi sedikit diatas telinga sebelah kanan dan kemudian kencangkan dengan tusuk sanggul. Setelah rambut tertata rapi saatnya untuk memberi hiasan  kepala diatas kening. Dengan hiasan kepala yang sempit sebagian dari rambut yang digulungkan melalui pusat kepala ditarik keatas dan dilepaskan ke belakang melalui hiasan tadi. Dengan hiasan kepala yang lebar, rambut tersebut akan tertahan  dibagian belakang  dan hiasan kepala sebelah dalam. Jika ingin yang lebih unik bisa menggunakan hiasan yang membuat sendiri dari manik-manik. Mewah tidaknya hiasan kepala hal itu tergantung acara adat apa yang akan dikunjungi.
Selain  keragaman pakaian adat, flora dan faunanya ada juga alat musik. Suku bangsa Kaili merupakan penduduk mayoritas di provinsi Sulawesi Tengah, disamping suku-suku bangsa besar lainnya seperti Dampelas, Kulawi dan Pamona. Orang Kaili dan Dampelas menganut agama islam, sedangkan orang Kulawi dan Pamona merupakan penganut agama agama kristen. Di samping penduduk asli, di Sulawesi Tengah juga terdapat suku bangsa pendatang, seperti orang Bugis dari selatan serta orang Gorontalo dan Minahasa dari sebelah utara. Bahkan ada sebuah catatan sejarah yang menyatakan, bahwa raja-raja dari Sulawesi Selatan (seperti Bone, Gowa dan Luwu) pernah lama berkuasa di daerah Sulawesi Tengah, sehingga sampai sekarang ini terlihat peninggalan-peninggalan unsur budaya yang berbau daerah Bugis-Makasar, seperti bentuk rumah, adat istiadat, perkawinan, tata cara bertani, sistem kekerabatan dan sistem mata pencahariaan hidup. Adapun alat musiknya adalah :
a.   Kakula
Kakula merupakan salah satu bagian dari budaya gong yang menyebar di Asia Tenggara mulai dari Filipina bagian selatan hingga Sumatra bagian selatan. Instrumen ini biasanya dimainkan oleh orang Kaili yaitu suku asli di Sulawesi Tengah. Selain di daerah Sulawesi Tengah,Kakula juga dapat ditemukan didaerah lain  seperti didaerah Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow), Kalimantan, Sumatra, Maluku, Sabah dan Serawak Malaysia dan Brunai Darussalam. Penyebaran Kakula yang sangat luas ini dikarenakan Kakula merupakan alat musik yang cukup terkenal.
b.   Kolintang
Kolintang adalah Instrumen  musik yang berasal dari Minahasa biasanya Kolintang dipakai sebagai pengiring dari seorang penyanyi lagu-lagu daerah ataupun cuma musik instrumen saja. Kolintang juga sangat terkenal di Indonesia bahkan sudah sampai dipromosikan sampai keluar negri. Kolintang sendiri dimainkan oleh  regu yang tiap regunya berjumlah 6 orang atau lebih. Kolintang adalah alat musik yang terbuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran, wenang, kakinik yang memiliki kontruksi fiber paralel. Kolintang  yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara (sulut) dan sudah terkenal sejak puluhan tahun silam. Cara memainkannya pun dengan dipukul. Musik Kolintang minimal dimainkan oleh enam orang yang memegang melodi, gitar dua buah, sebuah ukelele, sebuah benyo dan sebuah bas. Alat ini pun mempunyai kisah ketika ditemukan olaeh seorang pria yang berasal dari minahasa  yang bernama lintang. Nama kolintang sendiri diambil dari  suara tong ( nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan ‘Mari kita lakukan tang ting tong’ adalah ‘Mangemo Kumolintang’. Ajakan itu yang kemudian menjadi kata ‘kolintang’. Dahulu alat musik ini dapat dimainkan untuk mengisi acara seperti pernikahan, penyambutan, peresmian, pengucapan syukur, keagamaan dan acara pertandingan. Namun seiring perkembangnya zaman dan banyak munculnya alat-alat musik baru maka berkuranglah penyuka musik ini. Hal ini tidak hanya terjadi oleh alat musik Kolintang saja tapi terjadi dengan alat musik tradisional lainnya. Satu set peralatan Kolintang terdiri dari sembilan alat. Sembilan alat ini terdiri dari melodi, alto dan tenor (yang masing-masing dua alat) serta satu ukulele, satu cellodan satu bas. Satu set alat ini biasanya dijual dengan harga Rp 25.250.000. Penutup Kolintang dijual dengan harga Rp 150 ribu, pemukul Kolintang satu set Rp 500 ribu dan stand partitur Kolintang per satuan seharga Rp 150 ribu. Harganya yang sangat mahal dikarenakan instrumen ini masih langka dan cara pembuatannya yang rumit dengan bahannya susah didapatkan.
Selain pakaian adat, alat musik tersebut di Sulawesi Tengah juga terdapat seni tari yang cukup unik dan menarik untuk diketahui yaitu :
a.   Tari Maengket
Tari Maengket  merupakan tarian tradisonal yang biasanya dilakukan pada saat masyarakat setempat sudah memanen hasil pertaniannya, tarian ini  mempunyai gerakan-gerakan sederhana tapi tetap mempunyai makna khusus, biasanya hanya orang-orang sana yang mengetahui makna tarian tersebut. Tarian ini juga merupakan wujud syukur masyarakat tersebut atas hasil panennya. Sekarang tarian Maengket telah berkembang menjadi teristemewa bentuk dan tarinya tanpa meninggalkan keaslian dari tarian Maengket. Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu : Maowey kamberu, Marambak dan Lalayaan. Yang masing-masing babak juga mempunyai makna tersendiri. Biasanya tarian ini diperagakan oleh beberapa orang yang terdiri dari perempuan dan laki-laki seperti berpasang-pasangan dengan menggunakan baju warna kuning ataupun pakaian adat mereka. Dan biasanya tarian ini dilakukan dimalam hari. Hingga sampai sekarang masyarakat setempat masih menggunakan tarian tersebut jika menyanbut hasil panen mereka. Tarian-tarian tradisonal seperti itulah yang perlu dilestarikan agar nantinya generasi mendatang dapat tahu akan budaya daerah kelahiran mereka.
b.   Tari Kabasaran
Tarian Kabasaran ialah tari Perang yang merupakan tarian tradisioanal Minahasa  yang menceritakan bagaimana suku Minahasa mempertahankan daerahnya dari musuh yang ingin memduduki daerahnya. Tari Perang ini memperagakan bagaimana menggunakan pedang perisai  dan tombak. Tarian Kabasaran ini ditarikan untuk acara-acara khusus seperti  penyambutan tamu atau diberbagai acara. Tarian ini diperagakan diluar rumah, biasanya dijalan hal ini sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai penyambutan tamu. Pakaiannya pun sangat unik dengan menggunakan bulu-bulu diatas kepala mereka. Selain hiasan dikepala mereka, penari pun membawa sejenis pedang.
Banyak sekali keragaman budaya yang dimiliki daerah Sulawesi Tengah. Potensi daerahnya cukup baik, dari segi penghasilan alam maupun budaya. Daerah Sulawesi Tengah sendiri merupakan daerah yang indah. Banyak tempat-tempat yang indah dan esotik yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Dalam segi budaya daerah ini masih bisa mempertahankan adat istiadat mereka walaupun banyak budaya luar yang masuk. Ketradisonal daerah ini masih sangat terasa kuat. Hal ini terbukti dengan acara-acara khusus didaerah ini yang masih sering dilasanakan. Akan tetapi masyarakat daerah ini khususnya masyarakat pedalaman yang jauh dari perkotaan contohnya seperti yang tinggal didaerah pegunungan dari segi bahasa mereka sangat kurang. Banyak masyarakat yang tidak bisa menggunakan Nasional karena mereka kurangnya mereka bersosialisasi dengan masyarakat luar. Seharusnya mereka tetap bisa menggunakan bahasa nasional negaranya sendiri. Masyarakat seperti itu biasanaya ingin mempertahankan budaya daerahnya sendiri, tetapi kalau sampai seperti itu tidak benar juga. Pemikiran seperti itu yang membuat mereka tertinggal dengan daerah lain. Kita juga harus bangga karena memiliki daerah seperti Pulau Sulawesi khususnya Sulawesi Tengah. Mulailah dari sekarang kita harus kenali budaya daerah kita. Agar tidak hilang termakan oleh zaman dan tersingkir dengan adanya budaya barat yang masuk ke negara kita. Kita pun tak akan menjadi merasa asing dengan budaya sendiri.


 
Referensi :

Ir. Cundoko. 2008. Indonesia. Bogor. IndoBook CITRA MEDIA.

Sagimun M.D. dkk. (Ed). 1977/1978. Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tengah. Proyek penelitian dan pencatatan kebudayaan daerah.

Ny. E. K. Hanafie Sulaiman dkk (Ed). 1986. Dampak Modernisasi Terhadap Hubunagan Kekerabatan Daerah Sulawesi Tengah. Jakarta. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Judi Achiadi. 1986. Pakaian Daerah Wanita Indonesia. Jakarta : Djambatan.

Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 2006. Sejarah Sulawesi Tengah. Universitas Michigan. Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.

Comments

Popular posts from this blog

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Lengkap

PROPOSAL TUGAS AKHIR KARYA SENI (TAKS) KERAJINAN KRAMIK

PERMENDIGBUD EKONOMI REVISI